Friday, June 23, 2017

Sebersit rasa yang terlambat

Penyesalan itu selalu datang belakangan,
Begitu kata orang-orang tua kita.

Ketika mereka melihat kita menangis tersedu,
Karena menyesali sesuatu yang sudah terjadi.

Itulah sesal.
Sebersit rasa yang datang terlambat.
Yang kedatangannya hanya menggores sembilu di dalam hati.
Karena ia datang terlambat,
Di saat nasi sudah menjadi bubur,
Di saat api sudah menjadi asap,
Di saat cermin telah retak,
Di saat kata sudah terucap,
Dan yang tersisa hanyalah kepingan hati yang pecah.

Namun tidakkah kamu tahu?
Bahwa sesungguhnya kita saat ini hidup dalam dimensi yang rasa sesal itu masih berguna.
Jikalah rasa ini memiliki energi,
Maka kata maaf adalah hasilnya yang pertama.
Dan taubat adalah karyanya yang luar biasa.

Ah seandainya kamu tahu,
Tempat ini, waktu ini, rasa yang terlambat itu, belumlah terlambat.. Belum terlambat yang sebenar-benarnya.
Karena, nanti.
Nanti, saat kita sudah sama-sama melewati dimensi ini,
Nanti, saat segala fragmen kehidupan kita ini dipampang nyata..
Rasa ini, rasa sesal ini dan juga kata maaf... Nanti hanyalah dua hal yang tiada berguna.

Ah siapalah aku ini, segala kalimat yang kau baca diatas, tidak ada artinya bagimu.
Mungkin bahkan rasa yang terlambat ini, tidak ada di dalam hatimu.
Maka apalah gunanya nanti? Saat ia muncul di hari neraca yang seadil-adilnya.
Ya Rabb.. Jangan Kau hinakan aku di hari mereka dibangkitkan...

Surah Maryam, Verse 39:

وَأَنذِرْهُمْ يَوْمَ الْحَسْرَةِ إِذْ قُضِيَ الْأَمْرُ وَهُمْ فِي غَفْلَةٍ وَهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ

"Dan berilah mereka peringatan tentang hari penyesalan, (yaitu) ketika segala perkara telah diputus. Dan mereka dalam kelalaian dan mereka tidak (pula) beriman."

Surah Ghafir, Verse 52:

يَوْمَ لَا يَنفَعُ الظَّالِمِينَ مَعْذِرَتُهُمْ وَلَهُمُ اللَّعْنَةُ وَلَهُمْ سُوءُ الدَّارِ

"(yaitu) hari yang tidak berguna bagi orang-orang zalim permintaan maafnya dan bagi merekalah laknat dan bagi merekalah tempat tinggal yang buruk."

Mardhiyyah,
Cimanggis
23 Juni 2017/29 Ramadhan 1438H

Tuesday, June 20, 2017

How it feels to be a broken rib

Ketika Rosululloh sallallahu 'alayhi wa sallam menasihati para lelaki untuk berbuat baik kepada wanita.
Dimana kalian?

Lalu ketika nasihatnya diiringi dengan suatu peringatan akan akibat dan bencana jika kalian lalai,
Dimana kalian?

Kemudian ketika akhirnya bencana itu terjadi, persis seperti apa yang dikatakannya berpuluh tahun silam...
Dimana kalian?

Menyesalkah kalian?
Adakah perasaan bersalah dan ingin memperbaikinya?

Ataukah kalian anggap hal itu sesuatu yang biasa-biasa saja..
Lalu kalian berbalik memunggungi nasihat itu?

Mau kemana kalian?

Mengapa kalian perlakukan aku dan teman-temanku seolah kami hanyalah sampah masyarakat yang meresahkan?
Mengapa kalian berbalik arah melanggar  batas lisan dan mengatakan "jika saja" dan "seandainya" sedemikian kejamnya?

Adakah cara untukku bisa menyambungkan kembali antara dua keping tulang rusuk yang telah patah ini?
Begitu kira-kira pertanyaan yang selalu sukses melelehkan setetes-dua tetes bulir saat semuanya kembali dalam fragmen memilukan dari hari ke hari.

Apakah lagi-lagi pertanyaan ini kau pandang dengan cibiran dan komentar... "Ahh, drama!"
Begitukah?

Kalaulah memang hidup ini dan segala luka yg ada hanyalah drama yang berlebihan, mengapa "drama" tulang rusuk yang patah ini disebutkan sedemikian eksplisitnya oleh manusia yang paling mulia yang pernah ada di dunia?

Kalaulah ini semua sekedar melodrama yang berlebihan yang sedemikian hinanya,  mengapakah Allah ilhamkan pada lisan seorang Nabi dan Rosul agar kalian, aku, dan kamu waspada?

Bahkan waktu tidak dapat menyembuhkan kami. Hanya keyakinan akan janji Allah yang menghangatkan hati ini.

Jika memang setelah ini, hanya kehinaan yang bisa kalian tunjukkan pada kami,
Jika memang setelah ini hanya pengasingan di dunia untuk kami,
Jika memang ini adalah cara Allah untuk membuat kami, aku dan semua tulang rusuk yang patah di dunia ini, selalu hanya menghadap dan merayuNya saja, lagi dan lagi dan lagi...

Baiklah. Tidak mengapa.
Ada lebih dari cukup kata, dan nama yang Allah Ar Rahman bisikkan pada telingaku, dalam keadaan ini.

Jika keadaan ini membuatku sedikit saja merasakan dan merindukan dan ingin terus mengulang-ulang apa yang lirih dipinta oleh Istri seorang durjana di masa lalu, Asiyah binti Muzahim, akan kuucapkan dengan tawa dan wajah menatap cakrawala...

Ya Allah, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisiMu, di JannahMu.

Ya Allah, jangan Kau hinakan aku, di hari mereka dibangkitan.

Saturday, June 17, 2017

Hatiku ini merdeka, dari Manusia

Adalah suatu dusta.
Jika kamu,
Mengatakan yang sebaliknya.

Demi Dzat yang hatiku berada di genggamanNya,
Sungguh takut aku pada murkaNya.

Jika kamu merasa,
Maka merasalah tanpa prasangka.

Jika kamu berkata,
Maka berkatalah dengan neraca.

Ingatlah akan hari dimana,
Lidah, hati dan mata,
Sanggup berkata-kata.

Ingatlah bahwa perdebatan antara hati dan mata,
Akan berujung pada hati yang tidak merdeka.

Dan sampai malam ini,
Sekali lagi kusampaikan pada manusia.
Bahwa hatiku ini merdeka.

Merdeka dari manusia,
Namun sukarela berada dalam rengkuhanNya.

Sekalipun ia patah berkeping-keping,
Remuk rusuk, terinjak-injak,
Hatiku ini merdeka dan bukanlah tawanan siapa-siapa,
Apalagi syaithan yang gemar berdusta.

Maka hentikanlah segala dusta,
Segala teka-teki dan fatamorgana,
Dan segala angan-angan yang kau eja.

Jangan kau seret aku ke dalam pusaran kata,
Apalagi analogi yang tak bermakna.

Ketahuilah bahwa,
Antara manusia dan hatinya,
Ada Allah Yang Maha Kuasa.

Mardhiyyah, 1438H.

Thursday, May 25, 2017

Dahaga Tubuh dan Jiwa Kita

Ada kalanya... Tubuh dan jiwa kita ini terasa begitu gersang.

Ada kalanya kita ingin menjadi orang yang slowresponse. Dunia ini terlalu hiruk pikuk. Nyatanya maupun mayanya.

Manusia sesungguhnya memang butuh bulan madu, khusyuk, sunyi, sepi, bersama Rabb nya.

Wednesday, May 24, 2017

How lucky muslims are...

Have you ever thought of how lucky you are being a muslim?
At times like this... I am indeed feeling so lucky.

How can a sane human being have a mixed up belief they should just follow until their death?
We muslims believe Jesus will return, he was never crucified, he is not dead yet, he was raised up alive, and he will return to this earth.
That perfect belief will soothe your heart, calm your head, and answers all your questions.

If only you believe... If only you have faith in this path.

Oh my Lord, I am very grateful to be one amongts the believers and please help me to stay sane in this path, untill I meet You, Lord, one beautiful day, up there 💙💚

Aamiiin..

Monday, May 22, 2017

Rayuan Hati Yang Patah

Sungguh aku tak pernah merayu,
ataupun merajuk mendayu-dayu.
Katakan saja terlalu tinggi hatiku,
terhadap manusia, terlalu anti bagiku,
untuk menjadi seorang perayu.

Sepanjang ingatan benakku, hanya satu waktu aku merayu sedemikian biru.
Hanya satu waktu aku selalu merayu, membiarkan diriku sibuk menjuju.
Yakni di dua paruh terakhir yang syahdu, atau di malam-malam yang mungkin bernilai seribu,
Berkali-kali aku merayu, Tuhanku.

Apapun itu, apapun segala kesulitan, keinginan, hasrat terdalamku, aku hanya merayu Tuhanku!
Bagiku, bersimpuh di kaki siapapun adalah MALU, kecuali di pinggiran sajadah sholatku.

Tidak sekejappun aku merayu ayahku, agar ia menikahkanku dengan lelaki yang aku mau.
Kenalilah, aku bukan seorang anak perempuan yang suka merayu.
Jikalau suratan sejarah hidupku sampai pada seorang yang kau ragu,
Tolong jangan sepatah katapun kau timpakan padaku.
Sebab anggukan kepalaku kala itu,
telah melalui bermalam-malam panjangku merayu Tuhanku, dengan mengharu biru.

Adalah dusta dan tuduhan yang sangat mengganggu,
Jika manusia mengatakan aku merayu,
lalu menyalahkanku,
atas malapetaka hidupku yang lebam membiru.

Tidak pula saat aku memiliki seorang kekasih yang halal disampingku, kepadanya aku pun belum pernah merayu.
Kisah kami terlalu cepat berlalu,
Hingga sampai di detik aku mencoba merayu,
Ia telah mematahkan rusukku tanpa malu-malu. 

Akupun kembali tersungkur bersimpuh, merayu, Tuhanku.
Siang hari aku merayu Tuhanku,
Dengan rayuan patah hati yang menyayat darah dagingku.
Malam hari aku merayu Tuhanku,
Dengan rayuan harapan yang meneguhkan hatiku.

Sungguh, aku tidak pernah kecewa dalam merayu Tuhanku.
Dan sungguh aku tidak sedang merayu ciptaanMu, wahai Tuhanku.

Sebab Engkau Maha Pencemburu.

Mardliyyah.
Cimanggis, 22 Mei 2017

Wednesday, May 17, 2017

Are you a sinspiration? >_<

Are you not afraid if you're suddenly helping your friend to transgress? We should be worry. We should be very very worry. We should be very cautious if there is just a slip of our tongue that's becoming a path, for someone else to make them easy to sin!
.
.

It's like... You're inspiring someone else to sinning instead of inspiring them to run to Allah. Wa na'udzubillahi mindzalik.
If we're still struggling, like yes we are indeed, at least don't invite others to our own struggle, yet focus on our own struggle to win the battle, please! .
.

I'm seriously thinking this out loud because I'm worrying this kind of problem from this Ummah... And it's not a light matter, and by stating it here, I know HE WILL test me!!
.
.

This is something to ponder, and this is not a judgment to anyone, rather this is a problem from this Ummah... Let's help each other towards Jannah, my friends. Please help me.. And please SLAP me if you find anything, any clue of me helping you to do sin.
May Allah forgive us all.. And help us to be amongts the taaibats.. Aamiin.

Friday, February 10, 2017

Talbis dan Jerat Hati

Godaan bagi seorang muslim bisa berbagai macam bentuknya. Syaithon yg adalah anak keturunan dari Iblis laknatulloh telah berjanji setia sebagaimana kakek moyangnya untuk tidak berputus asa dalam menggoda manusia. Semua jenis manusia. Setiap level kesholehan selalu ada jerat syaithon yang mengancamnya.

Godaan bagi seorang yang ingin bertaubat adalah was-was, bisikan dari syaithon betapa besarnya dosa yang ingin kau taubati itu, dikipasinya perasaan kita, sedih yang tiada tara, devastated, hopeless, helpless, lalu... unforgiven. Sehingga putus asalah engkau, dari rahmat Sang Maha Penerima Taubat. Sehingga kemenangan bagi syaithon untuk membatalkan niat seorang hamba dari sesuatu yang begitu mulia dan dicintai Tuhannya, yaitu taubatan nasuuha. Fa na'udzubillahi mindzalik.

Godaan bagi seorang yang dimintai nasihat oleh saudaranya, adalah bangga diri dan prasangka. Begitu saudaramu selesai mendengarkanmu yang memberikan beribu untaian hikmah dari ilmuNya, baik itu perkataan RosulNya ataupun ayat-ayat Al-Qur'an yang mulia, datanglah ia, sang penggoda! Bersiaplah, dan ketahuilah bahwa lintasan fikiranmu adalah target empuk dari sang penggoda. Dikipasinya perasaan puasmu dengan bisikan betapa hebatnya engkau yang tak pernah terjatuh ke dalam kesalahan itu, yang diperbuat saudaramu, yang baru saja kau nasehati ia untuk meninggalkan dosa itu. Atau barangkali kau pernah mengalaminya, lalu kau bertaubat dan berhasil meninggalkan dosa itu? Lalu kini kau merasa hebat karena kau tidak lagi mengerjakannya dan bahkan baru saja menasehati saudaramu untuk meninggalkannya? Ketahuilah bahwa syaithon tengah mengguncang kemurnian taubatmu dengan perasaan bangga diri, sombong dan riya.
Apakah kau fikir cukup sampai disitu godaan dari sang penggoda yang hina dina itu? Oh tidak! Kali ini dikipasinya matamu dan hatimu dg prasangka berlebihan terhadap saudaramu. Segala perkataan saudaramu kau jadikan hujjah penilaian dg matamu yang tidak lebih awas dari Allah Yang Maha Melihat, dan merasa lebih tahu dari Dia Yang Maha Mengetahui. Sehingga berubahlah penilaian dan mungkin juga sikapmu terhadap saudaramu tadi, kau remehkan ia, kau pandang dia hina karena dosanya (yang saat itu juga mungkin sudah langsung ditinggalkannya), dan mungkin saja sebenarnya kedatangannya kepadamu adalah ujian bagi keikhlasan hatimu, ujian bagi ke-tawadhu'an amalanmu, ujian bagi kejujuranmu terhadap ilmu. Sungguh Allah Maha Berkehendak, sungguh Allah Yang Maha Memberi Petunjuk.

Godaan bagi mereka para penyeru kebaikan, berbeda dengan godaan bagi pendosa. Namun berhati-hatilah wahai hati. Sebab para penggoda sedang mengintaimu di sudut-sudut hati yang terkunci.
Apakah terlintas di fikiranmu bahwa engkau adalah penyebab kesholihan orang lain? Ketahuilah bahwa lintasan itu berasal dari si penggoda yang berdusta. Sebab hidayah dan petunjuk hanyalah hak Allah Yang Maha Kuasa.
Maka berhati-hatilah sekali lagi, sebab godaan yang seperti itu adalah tangga menuju kekurangajaran terhadap Allah Yang Maha Tinggi.
Apakah kali ini muncul lintasan pemikiran di benakmu bahwa engkau adalah lebih tinggi dan lebih mulia daripada mereka yang engkau seru? Ketahuilah bahwa inilah lintasan pada anak tangga kedua yang berasal dari penggoda yang sejatinya memang pendusta!
Maka berhati-hatilah lebih kuat lagi, sebab godaan itu jika kau termakan jeratnya semakin menjauhkanmu dari SyurgaNya.
Apakah segala baris kata-kata ini tak bermakna menurutmu? Sebab kau fikir tak sekejappun kau akan terjatuh ke dalam jaring jerat syaithon dikarenakan segala amal sholeh mu, segala usaha hebatmu menghindar, segala titel dan pujian manusia yang memandangmu sebagai seorang penyeru kebaikan? Apakah kau lupa bahwa sombong adalah pakaian Allah Azza Wa Jalla semata?
Na'udzubillahi mindzalik, tsumma na'udzubillahi mindzalik. Begitulah jeratan syaithon, anak keturunan Iblis Laknatulloh, yang karena dosa ini, Allah Yang Maha Menyiksa mengeluarkannya dari Surga yang penuh kenikmatan.

Laahaulaa wa laa quwwata illa billah.

Dari Mu’adz bin Jabal, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ عَيَّرَ أَخَاهُ بِذَنْبٍ لَمْ يَمُتْ حَتَّى يَعْمَلَهُ


“Siapa yang menjelek-jelekkan saudaranya karena suatu dosa, maka ia tidak akan mati kecuali mengamalkan dosa tersebut.” (HR. Tirmidzi no. 2505)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan hakikat kesombongan dalam hadits beliau Shallallahu ‘alaihi wa salllam :

الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

“Kesombongan adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia”. [HR. Muslim, no. 2749, dari ‘Abdullah bin Mas’ûd] 


Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

لَوْ لَمْ تَكُوْنُوْا تُذْنِبُونَ لَخِفْتُ عَلَيْكُمْ مَا هُوَ أَكْبَرُ مِنْ ذَلِكَ الْعُجْبُ الْعُجْبُ

“Jika kamu tidak berbuat dosa, sungguh aku mengkhawatirkan kamu pada perkara yang lebih besar dari itu, yaitu ‘ujub, ‘ujub (kagum terhadap diri sendiri)” [Hadist Hasan Lighairihi, sebagaimana di dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no. 658, karya syaikh Al-Albani]


Wednesday, February 08, 2017

Jalan yang berduri

Allah Azza wa Jalla punya cara yang sangat unik dan spesifik dalam menegur kita. Pernah suatu ketika seorang Muslim Scholar berkata:

"If you keep reminding your hearts about Allah, then one day there will come a time when your heart will remind you about Allah! "

Tidak ada yang lebih menguntungkan seorang muslim daripada kesadaran setelah datangnya nasihat. Tidak ada yang lebih membinasakan seorang muslim daripada sikap abai dan berpaling dari nasihat untuk bertaqwa kepada Allah.

Ketika musuh yang nyata memiliki 1001 jerat dalam menggelincirkan manusia, semestinyalah manusia memiliki lebih dari 1001 lapis penjagaan pada benteng imannya.

Kemudian seorang Muslim Scholar yang lain pernah menasihati dengan istilah:

The fine line.

Dimana istilah ini dapat bermakna ganda, yaitu garis yang baik atau garis yang sangat tipis yang hampir-hampir putus sehingga menjadi tidak baik.

Sejatinya setiap manusia memiliki tolak ukur di dalam hatinya, apakah dirinya sudah melanggar garis tersebut ataukah dia tau dia hampir memutusnya?

Bagaikan berjalan di atas jalanan yang berduri, mungkinkah kita tidak hati-hati? Atau sebaiknya kita berusaha keluar dari jalanan berduri itu ketika kita tahu ada jalan keluarnya, ataukah kita senang berputar-putar di atasnya dengan kesadaran duri-duri itu akan dapat melukai kaki kita cepat atau lambat...