Wednesday, May 17, 2017

Are you a sinspiration? >_<

Are you not afraid if you're suddenly helping your friend to transgress? We should be worry. We should be very very worry. We should be very cautious if there is just a slip of our tongue that's becoming a path, for someone else to make them easy to sin!
.
.

It's like... You're inspiring someone else to sinning instead of inspiring them to run to Allah. Wa na'udzubillahi mindzalik.
If we're still struggling, like yes we are indeed, at least don't invite others to our own struggle, yet focus on our own struggle to win the battle, please! .
.

I'm seriously thinking this out loud because I'm worrying this kind of problem from this Ummah... And it's not a light matter, and by stating it here, I know HE WILL test me!!
.
.

This is something to ponder, and this is not a judgment to anyone, rather this is a problem from this Ummah... Let's help each other towards Jannah, my friends. Please help me.. And please SLAP me if you find anything, any clue of me helping you to do sin.
May Allah forgive us all.. And help us to be amongts the taaibats.. Aamiin.

Friday, February 10, 2017

Talbis dan Jerat Hati

Godaan bagi seorang muslim bisa berbagai macam bentuknya. Syaithon yg adalah anak keturunan dari Iblis laknatulloh telah berjanji setia sebagaimana kakek moyangnya untuk tidak berputus asa dalam menggoda manusia. Semua jenis manusia. Setiap level kesholehan selalu ada jerat syaithon yang mengancamnya.

Godaan bagi seorang yang ingin bertaubat adalah was-was, bisikan dari syaithon betapa besarnya dosa yang ingin kau taubati itu, dikipasinya perasaan kita, sedih yang tiada tara, devastated, hopeless, helpless, lalu... unforgiven. Sehingga putus asalah engkau, dari rahmat Sang Maha Penerima Taubat. Sehingga kemenangan bagi syaithon untuk membatalkan niat seorang hamba dari sesuatu yang begitu mulia dan dicintai Tuhannya, yaitu taubatan nasuuha. Fa na'udzubillahi mindzalik.

Godaan bagi seorang yang dimintai nasihat oleh saudaranya, adalah bangga diri dan prasangka. Begitu saudaramu selesai mendengarkanmu yang memberikan beribu untaian hikmah dari ilmuNya, baik itu perkataan RosulNya ataupun ayat-ayat Al-Qur'an yang mulia, datanglah ia, sang penggoda! Bersiaplah, dan ketahuilah bahwa lintasan fikiranmu adalah target empuk dari sang penggoda. Dikipasinya perasaan puasmu dengan bisikan betapa hebatnya engkau yang tak pernah terjatuh ke dalam kesalahan itu, yang diperbuat saudaramu, yang baru saja kau nasehati ia untuk meninggalkan dosa itu. Atau barangkali kau pernah mengalaminya, lalu kau bertaubat dan berhasil meninggalkan dosa itu? Lalu kini kau merasa hebat karena kau tidak lagi mengerjakannya dan bahkan baru saja menasehati saudaramu untuk meninggalkannya? Ketahuilah bahwa syaithon tengah mengguncang kemurnian taubatmu dengan perasaan bangga diri, sombong dan riya.
Apakah kau fikir cukup sampai disitu godaan dari sang penggoda yang hina dina itu? Oh tidak! Kali ini dikipasinya matamu dan hatimu dg prasangka berlebihan terhadap saudaramu. Segala perkataan saudaramu kau jadikan hujjah penilaian dg matamu yang tidak lebih awas dari Allah Yang Maha Melihat, dan merasa lebih tahu dari Dia Yang Maha Mengetahui. Sehingga berubahlah penilaian dan mungkin juga sikapmu terhadap saudaramu tadi, kau remehkan ia, kau pandang dia hina karena dosanya (yang saat itu juga mungkin sudah langsung ditinggalkannya), dan mungkin saja sebenarnya kedatangannya kepadamu adalah ujian bagi keikhlasan hatimu, ujian bagi ke-tawadhu'an amalanmu, ujian bagi kejujuranmu terhadap ilmu. Sungguh Allah Maha Berkehendak, sungguh Allah Yang Maha Memberi Petunjuk.

Godaan bagi mereka para penyeru kebaikan, berbeda dengan godaan bagi pendosa. Namun berhati-hatilah wahai hati. Sebab para penggoda sedang mengintaimu di sudut-sudut hati yang terkunci.
Apakah terlintas di fikiranmu bahwa engkau adalah penyebab kesholihan orang lain? Ketahuilah bahwa lintasan itu berasal dari si penggoda yang berdusta. Sebab hidayah dan petunjuk hanyalah hak Allah Yang Maha Kuasa.
Maka berhati-hatilah sekali lagi, sebab godaan yang seperti itu adalah tangga menuju kekurangajaran terhadap Allah Yang Maha Tinggi.
Apakah kali ini muncul lintasan pemikiran di benakmu bahwa engkau adalah lebih tinggi dan lebih mulia daripada mereka yang engkau seru? Ketahuilah bahwa inilah lintasan pada anak tangga kedua yang berasal dari penggoda yang sejatinya memang pendusta!
Maka berhati-hatilah lebih kuat lagi, sebab godaan itu jika kau termakan jeratnya semakin menjauhkanmu dari SyurgaNya.
Apakah segala baris kata-kata ini tak bermakna menurutmu? Sebab kau fikir tak sekejappun kau akan terjatuh ke dalam jaring jerat syaithon dikarenakan segala amal sholeh mu, segala usaha hebatmu menghindar, segala titel dan pujian manusia yang memandangmu sebagai seorang penyeru kebaikan? Apakah kau lupa bahwa sombong adalah pakaian Allah Azza Wa Jalla semata?
Na'udzubillahi mindzalik, tsumma na'udzubillahi mindzalik. Begitulah jeratan syaithon, anak keturunan Iblis Laknatulloh, yang karena dosa ini, Allah Yang Maha Menyiksa mengeluarkannya dari Surga yang penuh kenikmatan.

Laahaulaa wa laa quwwata illa billah.

Dari Mu’adz bin Jabal, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ عَيَّرَ أَخَاهُ بِذَنْبٍ لَمْ يَمُتْ حَتَّى يَعْمَلَهُ


Siapa yang menjelek-jelekkan saudaranya karena suatu dosa, maka ia tidak akan mati kecuali mengamalkan dosa tersebut.” (HR. Tirmidzi no. 2505)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan hakikat kesombongan dalam hadits beliau Shallallahu ‘alaihi wa salllam :

الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

“Kesombongan adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia”. [HR. Muslim, no. 2749, dari ‘Abdullah bin Mas’ûd] 


Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

لَوْ لَمْ تَكُوْنُوْا تُذْنِبُونَ لَخِفْتُ عَلَيْكُمْ مَا هُوَ أَكْبَرُ مِنْ ذَلِكَ الْعُجْبُ الْعُجْبُ

“Jika kamu tidak berbuat dosa, sungguh aku mengkhawatirkan kamu pada perkara yang lebih besar dari itu, yaitu ‘ujub, ‘ujub (kagum terhadap diri sendiri)” [Hadist Hasan Lighairihi, sebagaimana di dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no. 658, karya syaikh Al-Albani]


Wednesday, February 08, 2017

Jalan yang berduri

Allah Azza wa Jalla punya cara yang sangat unik dan spesifik dalam menegur kita. Pernah suatu ketika seorang Muslim Scholar berkata:

"If you keep reminding your hearts about Allah, then one day there will come a time when your heart will remind you about Allah! "

Tidak ada yang lebih menguntungkan seorang muslim daripada kesadaran setelah datangnya nasihat. Tidak ada yang lebih membinasakan seorang muslim daripada sikap abai dan berpaling dari nasihat untuk bertaqwa kepada Allah.

Ketika musuh yang nyata memiliki 1001 jerat dalam menggelincirkan manusia, semestinyalah manusia memiliki lebih dari 1001 lapis penjagaan pada benteng imannya.

Kemudian seorang Muslim Scholar yang lain pernah menasihati dengan istilah:

The fine line.

Dimana istilah ini dapat bermakna ganda, yaitu garis yang baik atau garis yang sangat tipis yang hampir-hampir putus sehingga menjadi tidak baik.

Sejatinya setiap manusia memiliki tolak ukur di dalam hatinya, apakah dirinya sudah melanggar garis tersebut ataukah dia tau dia hampir memutusnya?

Bagaikan berjalan di atas jalanan yang berduri, mungkinkah kita tidak hati-hati? Atau sebaiknya kita berusaha keluar dari jalanan berduri itu ketika kita tahu ada jalan keluarnya, ataukah kita senang berputar-putar di atasnya dengan kesadaran duri-duri itu akan dapat melukai kaki kita cepat atau lambat...

Sunday, February 05, 2017

What will be better than the promise of God?

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

ثَلاَثَةٌ حَقٌّ عَلَى اللهِ عَوْنُهُمْ الْمُجَاهِدُ فِي سَبِيلِ اللهِ وَالمُكَاتَبُ الَّذِي يُرِيدُ الأَدَاءَ وَالنَّاكِحُ الَّذِي يُرِيدُ العَفَافَ

“Ada tiga orang yang Allah wajibkan atas diri-Nya untuk menolong mereka, 1) Orang yang berjihad di jalan Allah, 2) Budak yang memiliki perjanjian yang berniat memenuhi perjanjiannya, dan 3) orang yang menikah dengan niat menjaga kesucian diri.”

[HR. At-Tirmidzi dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Shahihul Jami’: 3050]

Wednesday, February 01, 2017

Mencintai karena Allah, sebatas fitrah

Mencintai sewajarnya, menyukai seperlunya, mengagumi sebatas ilmuNya, menghormati sebatas fitrah manusia, mengikuti dalam batas-batasNya.

Tidak ada manusia di dunia ini yang masih hidup maupun yang sudah berkalang tanah, yang perlu kita junjung dan bela melebihi penghambaan kita pada Allah ta'ala.

Para Nabi dan Rosul Allah adalah manusia-manusia pilihan yang mulia dan terjaga, dan kita ketahui nama-namanya dan kisah mereka.

Muhammad Rosululloh adalah satu-satunya manusia sampai hari ini yang kita berkewajiban meneladaninya dengan segala kebiasaan dan sunnahnya, dalam segala aspek kehidupannya.

Setelah mereka, adalah para wali Allah yang nama-namanya bukanlah termasuk ke dalam pengetahuan kita, sehingga tiada nama seorangpun yang pasti bisa kita wali-kan di masa ini seolah-olah Allah sucikan dari dosa.

Para Ulama adalah manusia-manusia pewaris Nabi Allah yang perlu banyak kita serap ilmunya dg niatan karena Allah saja dan penuh kehati-hatian dalam peneladanan terhadap mereka. Mengambil ilmu dari para Ulama, berarti adalah mencari berkah Allah di dalamnya.

Orang-orang sholeh, orang-orang berharta yang banyak amalnya, boleh jadi adalah manusia-manusia beruntung yang jika kita banyak bergaul bersama mereka maka kita akan dapatkan banyak manfaatnya selayaknya penjual minyak wangi yang Rosululloh umpamakan dalam hadist beliau.
Namun mereka tetaplah manusia sewajarnya. Bukan Nabi, bukan termasuk para Sahabat Nabi, bukan Khalifah, belum syuhada, belum tentu waliyulloh.

Bergaulah dengan para ulama dan orang-orang sholih, dengan adab yang baik. Banyak-banyaklah mengambil nasihat mereka, cintailah mereka sewajarnya saja, sebab sejatinya semua manusia punya dosa, perbedaannya hanyalah apakah pada akhirnya Allah ampuni dosa-dosa kita atau Allah hukum kita karena dosa tersebut? Faghfirlanaa ya Robbanaa.

Oleh karena itu, hingga detik ini belum ada lagi manusia hidup di dunia ini yang namanya sdh kita ketahui, yang dijamin Allah akhir kehidupannya. Setidaknya sampai masa itu, dimana akan ada lagi dua nama yang wajib kita patuhi sepanjang nafas kita, setelah wafatnya sosok Muhammad sallallahu 'alayhi wa sallam.

Karenanya, mencinta lah sewajarnya. Tidak ada dalam dien ini konsep "idola", sebab sebenarnya "idola" adalah "berhala", dan "berhala" adalah kesyirikan terhadap Allah SubhanaHu wa ta'ala. Jangan katakan Nabi adalah idolamu, jangan pula kau idolakan Syaikh, Ustadz dan Kiayi yang kau timba ilmu dari mereka.
Jika kau mencintai mereka, pastikan kecintaanmu adalah hanya karena Allah semata, jangan kau pandang sosoknya bagaikan malaikat yang tak berdosa, apalagi kau anggap sempurna.
Jika kau mencintai mereka, jangan kau hancurkan dengan puji-pujian tak berguna, sebab Rosululloh ingatkan kita bahwa pujian adalah kebinasaan manusia.
Jika kau mencintai mereka, jangan kau tutup matamu dan berlalu saat kau dapati ia melakukan salah di hadapan manusia, ingatkan ia dengan cara terbaik yang bisa kau tempuh. Sebab mengingatkannya adalah menolongnya dari berbuat dzolim dan aniaya.
Jika kau mencintai mereka, jangan kau katakan ia lebih baik dari manusia manapun, lebih suci di matamu daripada yang sewajarnya sampai-sampai kau rendahkan yang lain yang tidak sepaham dg mereka.
Jika kau mencintai mereka, doakanlah mereka segala kebaikan yang jika Allah kabulkan doamu hanya akan mendatangkan manfaat di sini atau disana.
Jika kau mencintai mereka, dan suatu hari tanpa sengaja kau temukan rahasia, aib, kekurangan, dosa, atau cela mereka, maka sadarilah bahwa mereka hanyalah manusia biasa, jangan kau kecewa, sedih, apalagi patah hati karena Allah taqdirkan kau mengetahuinya, padahal Allah tidak menjadikan suatu peristiwa apapun tanpa maksud dan hikmah, doakan kembali dan jangan kau berpaling dari kebenaran yang mereka sampaikan apalagi berbalik membenci mereka hanya karena suatu kesalahan yang kecil di mata Allah ta'ala.
Jika kau mencintai mereka dan kau mengenal keluarga mereka, perlakukanlah sebagaimana kau ingin mereka memperlakukanmu. Sebab itulah rumus dari manusia paling mulia.
Jika kau mencintai mereka namun suatu hari (naudzubillah) kau lihat ujian iman menimpa mereka, maka jangan kau gadaikan cintamu pada Allah dan RosulNya demi menjaga cintamu pada manusia yang adalah hamba.

Berbahagialah bahwa Ad Dienul Islam telah menyelamatkan kita dari penghambaan kepada sesama manusia dan menyatukan kita dibawah penghambaan kepada Allah Azza wa Jalla.

Sesungguhnya kita sama-sama manusia, yang belum dijamin Allah Syurga atau Nerakanya (wa na'udzubillah...)

Sesungguhnya Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam bersada: “Ruh-ruh manusia diciptakan laksana prajurit berbaris, maka mana yang saling kenal di antara satu sama lain akan bersatu. Dan mana yang saling mengingkari di antara satu sama lain akan berpisah.” (HR muslim 4773)

Sunday, January 29, 2017

What if I told you

"What If I Told You"

I see you sitting there in the waiting room with your infant. It's obvious you love him with a ferocity that cannot be explained even by earth's greatest philosophers. You are experiencing something science cannot begin to fathom. It is called motherly love, and although I'm a father, even I can't quite fully grasp the bond that you already have with your newborn.
   He's about two months old, isn't he? This is your first well visit, right? Do you have any idea what you're in for today?
  I mean, look at how beautiful that baby boy of yours is. He's perfect; I can tell by the look in your eyes. The way he's cooing at you tells me that all he knows right now is your love; that's all he needs.
   You are his provider. His guardian. His companion. His everything. The hordes of Sheol could not even stand against your son and hope to win. You would simply prevail. You are his mother, and he is your son; a thousand plagues on anyone who would try to harm him.
  
But what if I told you that today, in less than an hour, something could harm him? That something has the potential to severely harm him, and change him forever?

What if I told you that in less than an hour, you will likely be consoling that sweet, innocent boy of yours as he screams out in agony from a normal, routine procedure?

What if I told you he will be receiving six different injections full of aluminum, chemicals, foreign DNA, and carcinogens.. All to prevent things like Hepatitis B(if you or immediate family members do not have it, his odds of getting are extremely low), Rotavirus(a nasty diarrhea virus that has an extremely low complication rate), Diphtheria(long gone for decades), Tetanus(not a risk unless he'll be playing in animal feces), Pertussis(dangerous but very uncommon in breastfed newborns),  Meningitis(again extremely rare in newborns), Pneumonia(not a threat to healthy babies), and Polio(eradicated from this country).

What if I told you that even if there are fewer injections from your pediatrician than six, it's because they are administering combination vaccines, which have NEVER been tested for long term safety?

What if I told you that despite a very low risk of your child contracting these diseases in his first year(or ever, really), your pediatrician has been convinced that injecting this many vaccines into a tiny little two month old, whose immune system can't even produce its own antibodies(you're still providing those for him), is a good idea?

What if I told you that your perfect baby boy could experience seizures, convulsions, high fever, breathing problems, and inconsolable screaming?

What if I told you the current CDC vaccine schedule has NEVER been tested for long term safety?
I get it, you've been duped into thinking you're doing what's best for your baby, but let's be honest; did you have any idea that your son was about to receive that many vaccines at 10 pounds?

What if I told you that you will do this two more times in the next four months; increasing the risk of an adverse reaction each time? What if I told you that the most common age for SIDS is between 2-6 months?

What if I told you that many of the presuppositions you have about vaccines and their benefits have roots in the pharmaceutical industry? What if I told you that they make tax-free billions from people like you believing the propaganda? What if I told you they spend billions on their cognitive marketing?

What if I told you that your pediatrician can't answer tough questions about vaccines or diseases? That they are literally programmed to believe that the risks are unimportant; that they're extremely rare? What if I told you they are not extremely rare; that speaking from experience, they are quite common?

What if I told you that over 3 billion dollars has been "awarded" to families who have experienced severe vaccine injuries including death, chronic seizures, autism, and anaphylactic shock? What if I told you that only a small percentage of vaccine injured children are compensated for their injuries?

What if I told you that there are well over 500,000 vaccine injury reports on the government's injury reporting system, many of them severe and/or life-threatening? What if I told you that even the government has acknowledged that only 1-10% of vaccine injuries are ever reported?

What if I told you that vaccines are responsible for more deaths and severe complications than many of the diseases they're intended to prevent?

What if I told you that there is no guarantee that your baby will even respond to these vaccines; that he will likely not have any protection toward these diseases at two months, four months, or six months, aside from what you're already providing?

What if I told you that your son is about to receive, in one sitting, 25 times the amount of recommended aluminum(a neurotoxin) for an adult human? That even though you've been told it's no big deal, because your breastmilk contains aluminum too, that this process of injection bypasses his natural digestion system and  can potentially wreak havoc in his body? What if I told you that while teething, these toxins and chemicals can find their way to his brain via the blood brain barrier?

What if I told you that the autism rate is now one in 50? I know, I know, you've been convinced there's no connection to vaccines. But what if I told you there is? That our own government lied, suppressed data, and destroyed evidence of this on AT LEAST two occasions? What if I showed you proof of this?
What if I showed you how vaccines containing aborted fetal cells directly reflect autism case spikes according to empirical data?

What if I told you... You don't have to do this?

What if I told you, you have the resources available to study this topic and form an educated opinion, right on your cell phone?

What if I told you that you can ask your pediatrician tough questions and stump them easily?

What if I told you that you can say no to infant vaccines? That it is essential to educate before you vaccinate?

What if I told you that your voice is powerful, and your decision is the most important thing that your baby will ever experience at such a young age?

What if I told you he is counting on you?
We already know you are his everything.

It's time to choose which color pill you want.

#onevoiceatatime

Monday, June 27, 2016

Benar saat Marah

Dari Ammar bin Yasir Radhiyallahu 'anhuma, diantara doa yang Rosul Shallallahu 'alaihi wa sallam baca ialah:

أَسْأَلُكَ كَلِمَةَ الْحَقِّ فِي الْغَضَبِ وَالرِّضَى.

"Aku memohon kepada-Mu perkataan yang benar pada saat marah dan ridha"

[Shahîh.
HR Ahmad (IV/264), an-Nasâ`i (III/54-55), dan Ibnu Hibban (no. 1968 –at-Ta’lîqâtul Hisân) ]

Sunday, June 26, 2016

Ana Uhibbuki fillah

If only,

If Only we could, but we can never.
I know that you, would do anything, just anything to bring it all back to how it was.

But we knew exactly, you can't. I can't, we can never bring it all back together again, the pieces of our broken hearts.
Allah Knows Best, why.
Even if things get better in the future, tomorrow, next month, and indeed it feels better after 8 months back, better than 2 years ago. But still, we can never be the same again. And we both knew it will never goes back to how it was before everything, 2-3 years ago.

We can never undone what we have done, everything was all written forever in our books. Everything will be displayed scene by scene, layer by layer, word by word. And it really really really scary to think about mine, it makes me shiver to think how this calamity actually has two sides part, you know I have faults too, besides your dissapointment towards the other side, I know you knew I was wrong about this and that. Even after your loss upon me leaving, even after your tears and comfort words and all those beautiful duaas reminder you gave to me. And even, if you and everyone would forgive me for all my faults, things still won't ever go back to where we want.

Because this only dunya. And dunya is not where we live peacefully, and dunya is not where we can be perfectly happy, and I know you know that, too. And we both then, dreaming, praying, we will always making the same ultimate duaa...to The One and Only Hope, to The Gatherer, silently, or secretly on our blogs ':)

"Maka sesuatu yang diberikan kepadamu, itu adalah kenikmatan hidup di dunia; dan yang ada pada sisi Allah lebih baik dan lebih kekal bagi orang-orang yang beriman, dan hanya kepada Tuhan mereka, mereka bertawakkal."

- Qur'an [42:36]

Wednesday, June 22, 2016

SELAGI KITA MASIH MAMPU

SELAGI KITA MASIH MAMPU

Seharusnya setiap saat, setiap detik dalam hidup kita, kita sadar, Allah Maha Kuasa, Maha Mengatur, Maha Perencana. Seharusnya kita sadar, bahwa kapan saja Allah mau, Allah bisa buat kita tidak mampu. Allah Maha Mampu untuk membuat kita, manusia ciptaan-Nya ini, yang tidak memiliki hak apapun untuk mengatur bahkan nasib dirinya sendiri, 
untuk menjadi tidak mampu. 
Tidak mampu melakukan apapun. Apapun hal-hal yg sebelumnya Allah telah jadikan kita mampu. Allah Maha Kuasa untuk mencabut nikmat kemampuan kita dalam setiap aspek kehidupan kita baik perlahan-lahan maupun mendadak segalanya. Semua adalah atas kekuasaan dan kehendakNya saja.

Ini bukan tentang materi, ini bukan tentang kemampuan materi semata. Namun pada hakikatnya manusia adalah makhluq yg sering lupa bahwa banyak kemampuannya dalam kehidupan yang lupa disyukurinya pada Sang Maha Pemberi, Sang Maha Pencipta. Ar Razzaq, The Provider.

Mungkin hari ini, kita masih bisa tersenyum. Maka tersenyumlah, sebab hal itu akan terhitung sedekah. Sebab begitu banyak manfaatnya senyum itu, jika pemberinya ikhlas dan penerimanya pun mendapatkan kehangatan dan manfaat dari senyummu itu... :)

Sebelum Allah buat kita tidak mampu tersenyum, apakah karena sedemikian pedihnya rasa di dalam hati dan jiwa atas berbagai ujian dalam hidup kita, sehingga untuk tersenyum pun berattt berattt terasa. Ataukah na'udzubillah mindzalik jika Allah buat kita tidak mampu lagi tersenyum, literally tidak mampu, disebabkan Allah uji hambaNya dengan ujian sakit pada bibirnya ataupun sarafnya ataupun wajahnya. Laa haulaa walaa quwwata illa billah, sekuat apapun kita, tak akan mampu menyunggingkan senyum lagi jika Allah ubah menjadi tidak mampu. Faghfirlanaa yaa Robbana...inni kuntum minadzholimiin.

Mungkin hari ini kita masih mampu...
Mengelus pundak anak kita, 
Masih mampu mengoleskan sabun ke tubuh anak balita kita dan memandikannya dg penuh kasih sayang, 
Masih mampu mengusap kepala anak yatim yg Allah berikan kesempatan kita bertemu muka,
Masih bisa menjabat erat tangan saudara kita yang datang berkunjung sekejap ke rumah kita, sekedar ingin memberitahukan kepulangannya dari negeri yang jauh, 
Masih bisa mengangkat selembar plastik bekas roti dari lantai rumah kita yg terjatuh dari meja...

Masih mampu kita untuk melakukan semua itu yg terbersit di benak kita karena kita ingat semua janji Allah dalam hadist-hadist RosulNya, lakukanlah. Jangan kau tepis lontaran kebaikan yg keluar dari benak fitrahmu yang sesungguhnya itu adalah buah hasil kesabaranmu menyimak, membaca, mempelajari, mengetahui berbagai kebaikan seorang muslim yg Rosululloh saw wariskan dan contohkan lewat nasihat-nasihatnya, yang alhamdulillah sampai kepada kita. Syukurilah kemampuan kesehatan jari-jemari tanganmu, saudaraku. Sebelum Allah Yang Maha Mampu dan Maha Berkuasa membuat kita tidak mampu lagi memanfaatkan nikmat berupa sehatnya kulit, jari, dan kedua tangan kita. Atau apakah dengan naifnya kita meyakini Allah tidak akan dan tidak mampu mengambil semua itu darimu? Bukankah Allah sanggup mendatangkan penyakit berupa gatal-gatal luar biasa pada kesepuluh jari tangan kita? Tiba-tiba ataupun perlahan-lahan. Ataukah kita berfikir dengan sombongnya Allah tidak akan menimpakan itu kepada diri kita? Sangat mudah bagi Allah untuk mengatur dan menggiring setiap makhluq ciptaanNya untuk berada di manapun yang Allah suruh, dan melakukan apapun yang diaturNya sedemikian rupa. Sehingga suatu musibah terjadi atas idzinNya. Wa na'udzubillahi mindzalik.

Mungkin pagi tadi kita masih mampu bangkit dari pembaringan kita dengan mudahnya, 
Masih mampu untuk berjalan sedikit, banyak, dirumah menyiapkan keperluan diri sendiri untuk pergi ke kantor,
Masih mampu untuk berlari ke kamar mandi mendengar panggilan anak kita yg panik karena kesulitan dengan kancing bajunya,
Masih mampu untuk mengayuh sepeda menuju kampus yang jika ditempuh dg jalan kaki akan lama sekali,
Masih mampu untuk bergegas memenuhi permintaan Ibu kita akan segelas air putih sebab dirinya sedang sakit terbaring di kasurnya,
Lakukanlah semua itu dengan penuh keihlasan, ingatkanlah dan hiburlah dirimu yang letih dg rutinitas tersebut dengan berbagai untaian nasihat Rosululloh saw dalam setiap amalan-amalan itu yang lebih akan kita rindukan di hari pengadilan, dibandingkan waktu santai kita di dunia. Penuhilah panggilan ibu kita dengan segera, berangkatlah ke kampusmu dg niat menuntut ilmu karena Allah saja dan bukan untuk kesombongan dan kebanggaan sedikitpun, bersabarlah dengan anak kita yang masih kecil dan belum mampu untuk melakukan banyak hal, sebagaimana ibu kita dulu mengajari kita untuk mampu... bersabarlah.

Sebelum Allah tegur kita atas ketidaksabaran kita, dan kekufuran kita dalam kemampuan-kemampuan itu yang telah diberikan Allah cuma-cuma, tak terhitung di saat sehat, namun begitu berarti di waktu Allah mencabutnya. Bahkan hanya luka terjatuh sekejap di lapangan tennis, sudah cukup merobek kulit dengkul kita hingga ke dalamnya, yang tanpa kita sadari ternyata tidak secepat itu sembuhnya. Jika Allah mencabut nikmat sehat lutut kita, taruhlah sebelah saja (wa nau'dzubillahi mindzalik), bangkit dari kasur menjadi begitu menyakitkannya, berjalan selangkah dua langkah membutuhkan usaha yg keras, banyak orang terpaksa harus kita mintai tolong bahkan sekedar untuk memakaikan kita celana yang bersih. Berbaring sakit terasa, bangun pedih luar biasa, duduk pun lutut tertarik luka menganga..
Faghfirlanaa yaa Robbana. Subhanaka Inni kuntum minadzoolimin.

Saudaraku, renungan ini adalah untuk ku dan untukmu. Sebagaimana Allah katakan dalam Qur'an yang astaghfirulloh terlalu sering lupa kita buka dan baca,

Surat An-Nahl, ayat 18:

وَإِن تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا إِنَّ اللَّهَ لَغَفُورٌ رَّحِيمٌ

"Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."

Maka berbahagialah saudaraku sesama muslim dan takutlah kepada Allah, sebab
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

عَجَبًا ِلأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَلِكَ ِلأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْراً لَهُ

“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, semua urusannya adalah baik baginya. Hal ini tidak didapatkan kecuali pada diri seorang mukmin. Apabila mendapatkan kesenangan, dia bersyukur, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya. Sebaliknya apabila tertimpa kesusahan, dia pun bersabar, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya.” (Hadits shohih. Diriwayatkan oleh Muslim, no. 2999 dari Abu Yahya Shuhaib bin Sinan radhiyallahu ‘anhu).

Semoga Allah jadikan kita istiqomah dalam setiap detik hidup kita untuk memilih syukur atau sabar bergantian, dengan begitu Allah SWT akan ridho kepada kita. Aamiin.

Ps: if happens to be any non-muslim friends of mine here in facebook read this, please..let me convey to you 1 thing my Prophet told me to:
Aslim Taslam, Embrace Islam and you will be saved. Nothingbut goodness I hope from the very message, honestly. 
My FB messenger is always on for you, friends :)

Komplek Timah, menjelang hujan dan petir menggelegar, Kamis 10 Desember 2015.
Ditulis dan dishare selagi masih mampu...alhamdulillah..alhamdulillah.. alhamdulillahilladzi bini'matihi thatiimusshoolihat.

Al-Faqiir ilaa Allah..yang selalu membutuhkan Allah, Ummu Mahdi dan Farouq.